Buruh Wanita Ditampar Polisi

tindakan penamparan yang dilakukan oleh pihak kepolisian tertadap buruh wanita menimbulkan kecaman.

Seorang buruh wanita yang pada saat itu tengah berunjuk rasa disekitar Tugu Adipura Tanggerang, pada Minggu 9/4/2017, saat itu massa yang berunjuk rasa tergabung dalam GSBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia) yang ditengarai sedang melakukan sebuah aksi damai mengenai undang-undang perburuhan.

Massa juga meminta agar wali kota Tanggerang mencabut peraturan wali kota no 2 tahun 2016 mengenai penyelenggaraan pendapat dimuka umum di kota Tanggerang yang dilarang pada hari Sabtu dan Minggu, hari besar nasional serta hari besar lainya. Peraturan tersebut dianggap sebagai usaha untuk membungkan aspirasi-aspirasi rakyat dan juga membatasi kebebasan untuk memperjuangkan hak-hak demokratis mereka.

Yang kemudian aspirasi aturan wali kota tersebut dilegitimasi pihak  kepolisian dengan membubar paksa massa agen sbobet yang melakukan aksi di Tugu Adipura tersebut. Bahkan Polisi DW sempat berkata-kata kasar kepada seorang buruh perempuan dan kemudian menampar buruh perempuan tersebut dibagian pipi. Akibat ulah polisi tersebut membuat kecaman diberbagai pihak sehingga Massa kembali berunjuk rasa untuk melakukan protes terhadap apa yang telah dilakukan oleh oknum polisi tersebut. Dan kini polisi yang melakukan penamparan tersebut telah menjalani serangkaian pemeriksaan yang dilakukan oleh Propam.

Tanggapan kombes Tanggerang Harry Kurniawan terhadap buruh wanita ditampar polisi

Aksi penamparan yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap seorang buruh wanita sempat menghebohkan bahkan menjadi viral dimedia sosial. Polres Tanggerang menyerahkan semua proses pemeriksaan anggotanya yang telah menanpar buruh wanita ke Propam. Terkait mengenai kabar yang menyebutkan bahwa polisi DW yang diludahi oleh buruh wanita tersebut sehingga oknum polisi melakukan penamparan benar atau tidak, Harry Kurniawan menyebutkan bahwa hal tersebut tidak bisa menjadi alasan, karena menurut Harry apapun yang menjadi pemicunya, sebuah tamparan kepada buruh wanita tersebut tidak dapat dibenarkan.

Kombes Harry Kurniawan juga mengatakan jika polisi DW akan ditindak tegas dan  kemungkinan akan terancam dijatuhi sanksi, salah satu sanski yang akan di berikan kepada polisi tersebut yaitu penurunan jabatan atau bahkan pemecatan. Harry Kurniawan juga menyampaikan bahwa oknum polisi yang melakukan tindak penamparan terhadap buruh perempuan tersebut sudah diperiksa secara internal dan dimintai keterangan.

Polisi tampar seorang buruh wanita membuat masa gelar aksi

Massa dari buruh perempuan yang tergabung dalam GBSI melakukan protes dengan aksi didepan polres metro Tanggerang dengan membawa spanduk dengan berbagai tulisan untuk memprotes terhadap tindakan pemukulan yang dilakukan oleh polisi DW kepada rekannya sesama buruh perempuan. Dengan berorasi dan membawa spanduk di pinggir jalan Daan Mogot tanggerang, Senin 10/4/2017 pada pukul 11.30 wib. Membuat sejumlah polisi melakukan penjagaan untuk menertibkan aksi tersebut. kepadatan lalu lintas dijalan Daan Mogot pun terjadi yang di akibatkan adanya aksi dari GBSI sebagai aksi protes tersebut.

Tidak hanya massa dari GBSI yang melakukan aksi protes terhadap penamparan yang dilakukan oleh oknum polisi kepada buruh perempuan, Massa dari FPR (Front Perjuangan Rakyat) juga mengecam atas kekerasan yang dilakukan oleh anggota polisi Polres Metro Tanggerang. oknum AKBP DW telah menampar seorang buruh perempuan pada saat aksi di Tugu Adipura. Massa dari Front Perjuangan Rakyat mendesak AKBP DW di copot dari jabatan kepolisian.

Rudi HB Daman selaku Koordinator FPR menyampaikan bahwa kekerasan yang telah dilakukan polisi yang berinisial DW tidak pantas dilakukan oleh seorang polisi.   Massa taruhan bola menuntut agar pihak Polri mengusut sampai tuntas atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat dan pecat kasat intel polres Tanggerang.